Kamis, 04 November 2010

Pentingnya Mempelajari Sila ke 2 Pancasila dalam Interaksi antar Warga Negara Saat Ini

Isi dari sila ke dua pancasila ini adalah:
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Dari beberapa butir isi dari sila ke 2 Pancasila kita dapat merasakan adanya degradasi (kemunduran) prilaku masyarakat Indonesia. Pada butir pertama kita diharapkan dapat mengakui dan memperlakukan sesama sesuai dengan harkat martabatnya sebagai mahluk Tuhan. Pada era sekarang ini hal ini tampak sangat sulit sekali ditemui, banyaknya prilaku chaos di dalam masyarakat membuktikan bahwa butir pertama ini sudah dillupakan. Sama seperti butir pertama, butir-butir dari sila ke dua Pancasila sudah mulai tidak diperhatikan oleh masyarakat dalam kehidupan bernegaranya. Sebagai warga Negara kita memiliki kewajiban untuk hidup bernegara sesuai dengan dasar-dasar Negara kita. Prilaku-prilaku yang menyimpang seperti adanya sikap premanisme yang brutal seperti yang kita lihat dalam kejadian “Kasus siding Blowfish di daerah Pengadilan Negri Jakarta Selatan” menunjukkan bahwa perlunya pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat baik itu di jenjang pendidikan formal ataupun pendidikan berwarga Negara di dalam lingkungan masyarakat.
Pendidikan berwarga Negara di jenjang pendidikan formal harus lah dilakukan tidak hanya memberikan teori tetapi dengan praktek langsung. Karena teori cenderung hanya dianggap angin lalu saja, praktek toleransi antara individu satu dengan yang lainnya dapat memberikan gambaran langsung betapa pentingnya nilai-nilai kemanusiaan itu. Praktek langsung dari sebuah teori kewarganegaraan dapat dilakukan dalam interaksi sosial di dalam lingkungan pendidikan ataupun lingkungan tempat tinggal, di dalam lingkungan pendidikan teori ini dapat diperaktekan dengan cara sikap dan prilaku dalam lingkungan pendidikan. Pada era sekarang ini teramat sulit menemukan sikap penghargaan di lingkungan pendidikan, anak didik saat ini terbiasa dengan penggolonggan-penggolonggan berdasarkan status sosial, ada si kaya dan ada si miskin. Sikap seperti itu menjadikan toleransi antara sesama menjadi sangat menyedihkan. Adanya penghargaan (sopan santun) dalam bertutur kata dan bersikap kepada orang lain diharapkan dapat menjadi cermin langsung bahwa sikap toleransi itu menjadi suatu hal yang penting dewasa ini. Bahwa penggolonggan-penggolonggan berdasarkan status sosial itu adalah hal yang merusak sifat-sifat kemanusiaan.
Pendidikan berwarga Negara di dalam lingkungan masyarakat dapat dilakukan dengan cara adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memberikan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup bernegara yang baik. Penyuluhan yang dilakukan tidak hanya dengan cara formil (mengajarkan cara menjadi warga Negara yang baik), tetapi dapat dengan cara-cara seperti gotong royong membersihkan lingkungan, siskamling dan cara-cara lain yang dapat mengajarkan secara langsung apa artinya tenggang rasa antara sesama manusia.
Adanya sikap-sikap yang mengkasta-kastakan golongan berdasarkan tingkatan sosial juga dapat merusak prilaku bernegara yang baik dan benar. Memang banyak sekali budaya di Indonesia yang membuat adanya tingkatan-tingkatan sosial di masyarakat, tetapi sebagai warga Negara yang berintelektual ada baiknya kita tidak lagi menerapkan hal tersebut pada zaman sekarang ini. Tingkatan-tingkatan sosial berdasarakan ras, agama dan kekayaan membentuk masyarakat menjadi bersikap anti sosial. Sikap anti sosial tersebut menciptakan kesenjangan di dalam masyarakat dan umumnya kesenjangan tersebut yang sering membuat terciptanya chaos. Seperti pada tahun 1998, pada saat kerusuhan terjadi di Indonesia banyak dari golongan-golongan sosial tertentu menjadi korban karena sikap hedonisme (pola hidup kaya) yang mereka terapkan dalam interaksi sosial.
Berpedoman pada dasar Negara kita Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya perbedaan-perbedaan tadi tidak menjadi suatu permasalahan. Bahwa selayaknya perbedaan-perbedaan itu harus lah dipersatukan oleh rasa kemanusiaan yang tinggi. Pada butir-butir sila ke dua dapat kita lihat bahwa semua isi butir tersebut mempunyai benang merah bahwa semua interaksi sosial di dalam masyarakat harus didasari sikap toleransi, penghargaan kepada sesama manusia itu adalah hal mutlak. Jadi ada baiknya untuk kita warga Negara Indonesia mempelajari dan memahami sila ke 2 Pancasila secara utuh sehingga tercipta masyarakat yang memiliki toleransi terhadap sesama, sehingga tidak perlu ada lagi berita-berita tentang prilaku-prilaku brutal antar sesama warga.
Sila ke dua Pancasila adalah hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk tetap berjalan sesuai dengan dasar-dasar negaranya, untuk membangun masyarakat yang saling menghargai kembali lagi seperti dahulu kala.

3 komentar:

Ilham Fadillah mengatakan...

assalamualaikum ,,
contoh kegitan di lingkungan sekolah yang menanamkan makna pancasila sila ke 2 apa ya ???
trims..

chicakk mengatakan...

kakak trimakasih, sangat membantu
saya minta ijin menyalin

imam ciprut mengatakan...

Keren sob

www.kiostiket.com

Poskan Komentar

 
© Copyright 2035 rikirikardo
Theme by Unknown