Jumat, 09 November 2012

Sosiolinguistik Bahasa Iklan Menghilangkan Budaya

KELOMPOK :
KELAS 3KA23
 
ANDI HENDRAWANTO  10110679
FERRY HERDIAN            12110761
RIKI RIKARDO                19110424
 
A. BAHASA
 
Bahasa dalam kehidupan sehari-hari bukanlah seperti tubuh membutuhkan sepiring nasi melainkan media vital yang menghubungkan maksud. Oleh sebab itu, bahasa merupakan cara mengungkapkan diri kepada tujuan. Tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada proses intraksi yang melibatkan bahasa. Baik lisan maupun tulisan serta isyarat. Namun untuk mengungkapkan suatu maksud terkadang kita diperlihatkan dengan suatu kata asing namun tak menyulitkan untuk dipahami.
Iklan menghilangkan identitas lokal dalam dan memparodikan mereka dengan membandingkannya dengan globalitas identitas ke-Barat-an yang diwarisi oleh etnis mayoritas. Tidak ada lagi pengakuan terhadap ke-Bhinneka Tunggal Ika-an Indonesia, yang tersisa hanyalah sebuah sejarah yang menyatakan bahwa bangsa ini, dahulu, pernah benar-benar bersatu. Memang benar negeri ini menganut semboyan tersebut, namun bukan berarti bangga berinterferensi kemudian memaknainya sebagai wujud Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan perasaan senang dan mengucap syukur kepada Allah azza wa jalla penulis merasakan kebanggan tersendiri. Dengan terbersitnya nama judul di atas serta dipilihnya objek kajian interferensi. Penulisan ini diilhami oleh keprihatinan atas acuh dan tak samanya semangat berbahasa Indonesia yang baik dikalangan muda-mudi khususnya penggunaan bahasa dan istilah asing yang kerap kali muncul di media elektronik maupun cetak.
Sekarang ini banyak sekali iklan-iklan yang beredar di masyarakat, mulai dari media elektronik, maupun media cetak. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh iklan cukup beragam, ada yang menggunkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ada juga yang salah, serta interferensi pun tak lupa meramaikan. Iklan yang menggunakan Bahasa Indonesia yang salah ini, memberikan dampak yang negatif kepada masyarakat khususnya kaum muda. Kaum muda sangat tertarik dengan bahasa-bahasa yang digunakan oleh iklan-iklan, padahal bahasa-bahasa tersebut menyimpang dari Bahasa Indonesia yang  baik dan benar. Sehingga dapat membuat generasi muda tidak dapat menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, pada saat berinteraksi dengan sesama.
                         
Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi bahasa menurut para ahli:
BILL ADAMS
Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif.
WITTGENSTEIN
Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis.
FERDINAND DE SAUSSURE
Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.
PLATO
Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.

BLOCH & TRAGER
Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.
Berdasarkan pengertian menuut ahli di atas dapat dimengerti bahwa bahasa merupakan sarana penting yang digunakan untuk menyampaikan maksud dalam ujaran sehari-hari.
Pengertian Iklan
Iklan atau dalam bahasa Indonesia formalnya pariwara adalah promosi barang, jasa, perusahaan dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor. Pemasaran melihat iklan sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen lainnya dari promosi termasuk publisitas, relasi publik, penjualan, dan promosi penjualan.
Iklan tulis mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno. Ketika itu, iklan berisi mengenai budak-budak yang melarikan diri dari tuannya atau mengenai penyelenggaraan pertandingan Gladiator, pada masa ini iklan hanyalah berupa surat edaran. Beberapa waktu kemudian barulah muncul metode periklanan yang ditulis dengan tangan dan dengan kertas yang lebih besar di Inggris. Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada Imperial Intelligencer Maret 1648. Sampai tahun 1850-an, di Eropa iklan belum sepenuhnya dimuat di surat kabar. Kebanyakan masih berupa pamflet, leaflet, dan brosur. Iklan majalah pertama muncul dalam majalah Harper tahun 1864.
Pengertian Budaya
Sebuah pepatah latin kuno yang mencerminkan tentang  kebudayaan adalah : TEMPUS MUTANTUR, ET NOS MUTAMUR IN ILLID. Yang artinya: Waktu berubah, dan kita (ikut) berubah juga di dalamnya. Pepatah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa seiring konteks zaman yang berubah, orang-orang dengan alam pikir dan rasa, karsa, dan cipta, kebutuhan dan tantangan yang mengalami perubahan, serta budaya pun ikut berubah.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi budaya menurut beberapa ahli :
KROEBER dan KLUCKHOHN
Budaya menurut definisi deskriptif:
cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya.
Budaya menurut difinisi historis :
cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya.
Budaya menurut definisi normatif:
bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya adalah aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakn yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku.
Budaya menurut definisi psikologis:
cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya.
Budaya menurut definisi struktural:
mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya adalah abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret.
Budaya dilihat dari definisi genetis:
definisi budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Definisi ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
LEHMAN, HIMSTREET, dan BATTY
Budaya diartikan sebagai sekumpulan pengalaman hidup yang ada dalam masyarakat mereka sendiri. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja sangatlah banyak dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan atau kepercayaan masyarakat itu sendiri.
Budaya sendiri mempunyai beberapa tingkatan yang secara praktis bisa dijelaskan seperti berikut ini:
 
Tingkat formal:
Dalam tingkat formal, budaya merupakan sebuah tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tingkat informal:
pada tingkatan informal ini, budaya banyak diteruskan oleh suatu masyarakat dari generasi ke generasi berikutnya melalui apa yang didengar, dilihat, dipakai, dan dilakukan tanpa diketahui alasannya mengapa hal itu dilakukan

Tingkat teknis:
Pada tingkat teknis ini, bukti-bukti dan aturan-aturan merupakan hal yang paling penting. Sehingga terdapat penjelasan logis mengapa sesuatu harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilakukan.
B. IKLAN 
Pengertian Iklan
Pada dasarnya kata IKLAN berasal dari Bahasa Yunani yang memiliki arti menggiring orang pada gagasan. Kata iklan juga diartikan sebagai sebuah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khayalak target melalui media bersifat misal seperti televisi, radio, Koran, majalah, reklame atau kendaraan umum.
Pengaruh Bahasa Iklan
            Berapa banyak kosakata Bahasa Indonesia yang telah hilang dari perbendaharaan kata sehari-hari? Jawabannya, sangat banyak kosakata Bahasa Indonesia yang hilang, terutama dari ujaran dan penulisan keseharian. Hilangnya kosakata itu diduga terkait dengan cara orang Indonesia untuk menggunakan bahasa dan kata itu sendiri.
Pertama, orang Indonesia sudah lebih merasa nyaman dan modern jika menyelipkan sisipan kata berbahasa asing, Inggris contohnya. Ini adalah fakta. Kecenderungan ini tak hanya terjadi di obrolan masyarakat sehari-hari, tapi juga di dunia akademik. Dugaan saya, kosakata keinggris-inggrisan atau kebarat-baratan ini lebih banyak diproduksi oleh dunia akademik, baru selebihnya oleh media massa, baik dalam bentuk tulis maupun tutur.
Dalam obrolan dan cara menulis sehari-hari, secara latah orang Indonesia kerap memasukkan kata berbahasa asing secara sangat sembrono. Perhatikan kalimat berikut: "Dalam kajian cultural studies iklan dinilai sebagai salah satu perangkat pembentuk kebudayaan." Kalimat ini sebenarnya sudah menyalahi nalar kebahasaan itu sendiri. Soalnya, terdapat dua bahasa yang ditulis secara bersamaan dalam satu susunan. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki nalar dan basis logika yang berbeda (menerangkan-diterangkan;diterangkan menerangkan).
Contoh lainnya adalah: "Pembaharuan masyarakat desa harus dimulai dengan merubah mindset (cara berpikir) masyarakat itu sendiri." Kalimat barusan sebenarnya sangat menyudutkan bahasa Indonesia. Kata merubah jelas salah sebab yang benar adalah mengubah. Lalu, istilah berbahasa Indonesia diletakkan di dalam tanda kurung dan didahului dengan istilah asing, padahal  kalimat itu bersusunan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia sudah memiliki aturan khusus terkait dengan pembentukan kosakata. Setiap kosakata harus berasal dan bersumber dari Bahasa Indonesia itu sendiri,jika tidak diketemukan maka harus dilakukan pencarian dari bahasa daerah, dan jika tidak pula didapatkan maka diperbolehkan penggunaan bahasa asing. Penggunaan bahasa asing itu pun harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.
Penyerapan bahasa asing dengan sangat sembrono terbukti telah memusnahkan kosakata dalam Bahasa Indonesia. Setiap hari mungkin selalu ada kosakata Bahasa Indonesia yang hilang akibat kelatahan-kelatahan yang dipelihara oleh masyarakat dan sistem yang dikelola oleh media massa dan lembaga pendidikan.
Iklan Deodorant
Apakah Anda pernah melihat iklan salah satu merk deodorant terkemuka di dunia seperti rexona? Jika pernah baguslah, itu berarti Ada televisi di rumah Anda. Iklan ini senantiasa menampilkan bagian tubuh yang wajib dan merupakan ikon penting, ialah ketiak. Namun bukan ketiak yang hendak saya bahas disini melainkan penggunaan kata dalam iklan tersebut yang tidak baku. Contohnya adalah terdapat kata kenapa enggak. Kedua kata tersebut merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang tidak baku. Seharusnya kata kenapa enggak diganti dengan mengapa tidak. Kata serupa (enggak) juga akan Anda dengar dari tayangan televisi dalam acara sinetron-sinetron yang begitu marak di pertelevisian. Tidak hanya menghancurkan bahasa Indonesia, tetapi juga menghancurkan moral bangsa. Pasalnya berkomunikasi dengan suatu bahasa berarti orang itu telah belajar bahasa tersebut, belajar bahasa berarti tidak akan lepas dari belajar budayanya, jika telah Anda pelajari kebudayaan yang mengikatkan bahasa akan bangsanya maka Anda pasti mendapati bahwa berbahasa Indonesia yang baik dengan diksi baku namun tidak jumpai dalam dialog bahasa TV. Baik iklan maupun sinetron.
Iklan Rokok
Apakah Anda seorang penikmat rokok? Jika iya apakah Anda juga seoang penikmat bahasa yang baik? Padahal Anda dapat memperhatikan bahwa iklan salah satu produsen barang hisap ini ada yang keliru dalam penggunaan kata. Contohnya "Rumput gue lebih asyik dari tetangga". Perhatikan kalimat tersebut menggunakan kata "gue" yang sudah jelas menyalahi aturan kata dalam bahasa Indonesia dimana kata itu meupakan bahasa gaul yang tidak ada dalam kamus besa bahasa Indonesia (KBBI).
Kesalahan lain dari penggunaan kata pada iklan rokok tersebut adalah susunan kata yang tidak lengkap dan pilihan kata yang tidak sesuai yang memunculkan ambiguitas. Seharusnya kata "Rumput gue lebih asyik dari tetangga" diberi tambahan kata "rumput" setelah kata "dari" sehingga menjadi "Rumput gue lebih asyik dari 'rumput' tetangga". Namun dalam iklan rokok itu pengiklan nampaknya sengaja menyalahi aturan itu. Kemudian jika kalimat "Rumput gue lebih asyik dari tetangga" dibiarkan maka timbul ambiguitas, pasalnya dia bilang "...lebih asyik dari tetangga". Nah apanya yang lebih asyik? Rumputnya? Kalimat tersebut seolah bermakna bahwa rumputnya lebih cantik atau gemulai atau seksi atau indah dari tetangganya yang juga tidak jelas apakah tetangganya itu manusia atau hewan. Tanah kosong atau pohon?
Alasan untuk mempertahankan kosakata bahasa Indonesia adalah soal identitas itu sendiri. Kehilangan bahasa berarti sebuah perencanaan untuk menghilangkan kebudayaan itu sendiri. Bagaimanapun bahasa adalah sistem kesadaran dan penandaan (selain waktu) yang paling penting bagi manusia untuk bertahan hidup dan memiliki identitas. Keterlibatan kita dalam penghilangan bahasa Indonesia berarti keterlibatan untuk menghilangkan kebudayaan Indoensia itu sendiri.
Sering kali kita mendengar penggunaan bahasa-bahasa iklan pada media elektronik tidak sesuai dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Memang iklan itu akan terlihat menarik, tapi sebenarnya jika kita mengamati lebih dalam lagi dari penggunaan bahasa iklan tersebut, banyak memiliki pengaruh dalam penggunaan gaya bahasa orang-orang khususnya anak muda dalam hidup pergaulannya sehari-hari.
Dampak Negatif Bahasa Iklan
Masyarakat khususnya anak muda sedikit demi sedikit mulai meninggalkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar karena mereka lebih tertarik dengan bahasa-bahasa iklan yang mereka anggap sebagai bahasa modern. Padahal bahasa-bahasa tersebut (bahasa iklan) sangat bertolak belakang dari Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga dapat terjadi kesalah pahaman terhadap arti atau tujuan dari kata yang disampaikan.
Penggunaan bahasa iklan juga memberi dampak yang buruk terhadap cara berbicara anak muda. Mereka banyak yang mulai meninggalkan penggunaan tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sering menggunakan bahasa yang biasa digunakan dalam iklan. Hal ini dapat membuat tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar perlahan-lahan akan hilang, karena generasi-generasi muda tidak suka untuk menggunakannya.
 Cara untuk mengurangi Pengaruh Negatif Bahasa Iklan
Upaya untuk mengurangi pengaruh negatif dari bahasa iklan dapat dilakukan dengan dengan beberapa cara, misalnya :
  1. Memberikan pembelajaran tentang penggunaan bahasa iklan yang baik dan benar.
  2. Membentuk suatu badan yang menangani tentang iklan yang beredar di media massa.
  3. Membiasakan menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar setiap kali berkomunikasi.
Kesimpulan
Dari hasil penglihatan kami. kami  menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa iklan dapat memberikan dampak yang negatif bagi bahasa-bahasa komunikasi yang biasa digunakan oleh masyarakat, karena menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Oleh karena itu kami menyarankan agar sejak dini kita membiasakan mengenal dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar tidak terpengaruh dengan bahasa-bahasa yang biasa digunakan oleh  iklan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 rikirikardo
Theme by Unknown